foto : saat warga antri bbm di pom bensin
BALIKPAPAN, infoalima.com – Kemegahan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan senilai Rp123 triliun di pesisir kota, berbanding terbalik dengan kenyataan pahit yang dialami warganya: antrean bahan bakar minyak (BBM) yang tak kunjung usai. Ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan energi ini memaksa pemerintah daerah mengambil langkah darurat.
Komisi II DPRD Kota Balikpapan bersama Pemerintah Kota telah melakukan koordinasi intensif dengan Bagian Perekonomian Setda untuk mengatasi krisis ini. Langkah konkretnya, Wali Kota Balikpapan secara resmi telah mengajukan permohonan penambahan kuota BBM kepada BP Migas.
Namun, respons cepat dari BP Migas belum terlihat hasil nyatanya di lapangan. Ketua Komisi II DPRD Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, menegaskan bahwa indikator keberhasilan tunggal adalah hilangnya antrean di SPBU.
“Sayangnya, hingga saat ini, warga masih harus rela mengantre berjam-jam. Ini menandakan penambahan kuota belum terealisasi secara efektif atau dampaknya belum dirasakan masyarakat,” ujar Fauzi.
Strategi Darurat: Sebar Distribusi Cegah Kelumpuhan Kota
Sembari menunggu keputusan dan realisasi dari pemerintah pusat, Pemkot Balikpapan terpaksa menjalankan strategi darurat. Kebijakan yang diterapkan adalah pengaturan distribusi BBM berdasarkan tingkat keramaian dan kebutuhan wilayah.
“Kami mengatur agar pasokan Pertalite dan Solar tidak terpusat di satu titik. Ini strategi untuk menghindari kelumpuhan total di pusat kota akibat penumpukan kendaraan antre,” jelas Fauzi.
Penyebaran distribusi ini bertujuan memecah konsentrasi antrean dan mencegah kemacetan parah di jantung kota yang dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi.
Meski demikian, Fauzi mengakui bahwa langkah ini hanyalah solusi sementara. Kebijakan darurat ini dinilai belum menjawab akar masalah dan belum meredakan keresahan, terutama bagi para pekerja harian, pelaku usaha mikro, dan pelaku transportasi kecil yang hidupnya sangat bergantung pada BBM bersubsidi.
Keberhasilan proyek strategis nasional RDMP kini diuji oleh kemampuan memenuhi kebutuhan energi dasar warganya. Masyarakat Balikpapan masih menunggu solusi permanen yang mengakhiri ironi antrean BBM di depan kilang minyak raksasa. (*)
